<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Fi Silmi Kaaffah &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://kaffah.wordpress.com/category/renungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kaffah.wordpress.com</link>
	<description>membawa cinta dalam hati</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Oct 2009 06:34:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='kaffah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/8d945b4e3bcc52e1dccd2eb4245de7db?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Fi Silmi Kaaffah &#187; Renungan</title>
		<link>http://kaffah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kaffah.wordpress.com/osd.xml" title="Fi Silmi Kaaffah" />
		<item>
		<title>Sombong</title>
		<link>http://kaffah.wordpress.com/2006/07/27/sombong/</link>
		<comments>http://kaffah.wordpress.com/2006/07/27/sombong/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Jul 2006 01:16:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kaffah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://kaffah.wordpress.com/2006/07/27/sombong/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber NN (email)
Banyak manusia genit di dunia ini, kalho hanya sekedar genit-genit centil azah sih ora opo-opo, asal jangan kebangetan azah, sehingga akhir menjadi sombong rohani githu. Apa bedanya antara T-shirt cap Cabe ama T-Shirt Chanel, yang udah pasti merek Chanel harganya bisa 100 kali lipat lebih mahal daripada cap Cabe. Untuk kebutuhan jasmaniah T-shirt [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kaffah.wordpress.com&blog=315400&post=6&subd=kaffah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><i>Sumber NN (email)</i></p>
<p class="MsoNormal">Banyak manusia genit di dunia ini, kalho hanya sekedar genit-genit centil azah sih ora opo-opo, asal jangan kebangetan azah, sehingga akhir menjadi sombong rohani githu. Apa bedanya antara T-shirt cap Cabe ama T-Shirt Chanel, yang udah pasti merek Chanel harganya bisa 100 kali lipat lebih mahal daripada cap Cabe. Untuk kebutuhan jasmaniah T-shirt cap Cabe sudah cukup, tapi untuk kebutuhan rohaniah kudu yang bermerek. Begitu juga kenapa kudu membeli Jaguar XJ6 yang harganya 1,5 M kalau dengan kijang yang Rp 150 juta azah udah cukup, secara jasmaniah Kijang sebenarnya udah oce, tetapi untuk rohaniah kudu Jaguar, padahal untuk di Jkt entah itu Kijang, BMW, Mersi ato Jaguar kecepatannya sami mawon tidak bisa lebih cepat, tetapi untuk show „Nih Gue“ kudu Jaguar.</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-6"></span>Kenapa mo pergi jauh-jauh ke Tanggulangin (Sidoarjo) untuk beli tas bermerek, walaupun itu hanya sekedar kloningan ato merek bajakan; tapi yang penting bisa pamer sebagai wong sugih. Apa bedanya sop buntut di Borobudur Hotel dengan di kaki lima, yang sudah pasti di Hotel Borobudur harganya 10 kali lipat lebih mahal dan disana kita bisa mejeng untuk meningkatkan nilai kesombongan rohani kita.</p>
<p class="MsoNormal">
Sebenarnya Sang Pencipta telah memenuhi semua kebutuhan jasmaniah kita, sehingga sepatutnya kita kudu mensyukurinya, tetapi karena kerakusan dan ketamakan „rohani“ inilah yang membuat kita akhirnya terjerumus ke dalam dosa. Berapa banyak keluarga hancur, karena suami/istri tidak puas dengan apa yang mereka miliki. Mereka kerja sampai jauh malam, melupakan kesehatan maupun keluarga ini bukannya untuk kebutuhan jasmaniah kita melainkan untuk memuaskan kebutuhan rohani kita, agar bisa beli rumah segede istana, liburan ke luar negeri, menyekolahkan anak disekolahan yang bergengsi. Renungkanlah apa bedanya tidur ato duduk di korsi buatan Ligna ato Da Vinci ? Apa bedanya rasa kopi di resto biasa dan di Star Buck ? Perlu diketahui bahwa kebanyakan orang terlilit oleh hutang, karena ingin memenuhi kesombongan rohaniahnya. Maka tidaklah salah apabila ada orang yang menilai bahwa iblis itu ada di dalam mata kita.</p>
<p class="MsoNormal">
Tanya saja kepada para koruptor, untuk kebutuhan jasmaniah sebenarnya merampok uang ratusan juta azah udah cukup, tetapi untuk kebutuhan rohani kudu ratusan M bahkan sampai triliun, sehingga untuk menghidupkan tujuh turunan pun sekalipun udah lebih dari cukup. Tetapi apakah mereka puas ? Tidak ! Mereka itu bukannya Wong Sombong lagi melainkan udah meningkat menjadi Wong Gendheng !</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Para koruptor yang sombong rohani inilah yang sebenarnya menghancurkan negara kita, karena pangkat, gelar, kekuasaan maupun bank rekening itu adalah jubah rohani yang tidak terlihat, tetapi dapat dipakai untuk pamer menyombongkan diri kita. Jubah atau pakaian jasmani ada batasannya, sebab dalam waktu yang berasamaan tidak mungkin Anda bisa memakai pakaian lebih dari lima potong pakaian, tetapi untuk jubah rohani ini no limit dan tidak ada batasannya.</p>
<p class="MsoNormal">
Dan lihatlah di berbagai macam milis, dimana mereka saling berdebat kusir dengan mengeluarkan kata-kata jorok dan kasar, sehingga membuat muak para pembacanya, apakah ini untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah ? Ataukah hanya sekedar untuk mendapatkan jubah agar bisa dinilai sebagai Wong Ngerti, Wong Pinter, Wong Suci, Wong Baik &amp; Wong Bijaksana, selama tidak dinilai jadi Wong Kam Pung azah !</p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal">Pertama kali manusia jatuh ke dalam dosa, karena kesombongan rohani. Sang Pencipta telah menyediakan semua kebutuhan jasmaniah yang dibutuhkan oleh Adam dan Hawa di Taman Firdaus, tetapi karena kesombongan rohaniah, dimana mereka ingin menjadi seperti Allah hal inilah yang membuat mereka akhirnya jatuh ke dalam dosa ! Dan percayalah lebih dari 90% kejahatan di dunia ini, bukannya karena didorong oleh kebutuhan jasmaniah, melainkan kerena kerakusan rohaniah untuk menyombongkan diri. Orang dibui bukannya karena nyolong nasi/roti, melainkan karena nyolong motor !</p>
<p class="MsoNormal">
Banyak rumah ibadah di Indonesia dari segi kemegahannya tidak kalah dari Ceasars Palace, tetapi ironisnya rumah penduduk di sekitarnya masih berupa gubuk. Yang jadi pertanyaan untuk siapa rumah ibadah itu dibangun ? Apakah Sang Pencipta membutuhkan rumah ibadah yang super mewah dan super de lux ? Apakah Sang Pencipta hanya mau hadir dirumah ibadah yang mewah saja ?</p>
<p class="MsoNormal">
Kebalikannya apabila umatnya datang pakai Mercy / BMW; apakah mereka mau beribadah dirumah ibadah yang kecil dan sederhana ? Apakah rumah ibadah tsb dikemudian hari bisa dijadikan bahan untuk barteran dengan rumah surgawi ? Apakah ini untuk memenuhi kesombongan rohani dari umatnya ataukah dari pembimbing agamanya ?</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kaffah.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kaffah.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kaffah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kaffah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kaffah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kaffah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kaffah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kaffah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kaffah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kaffah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kaffah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kaffah.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kaffah.wordpress.com&blog=315400&post=6&subd=kaffah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaffah.wordpress.com/2006/07/27/sombong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d235ca4f42be97502b45dc66382ae6e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kaaffah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Yang Tak Pernah Mati</title>
		<link>http://kaffah.wordpress.com/2006/07/27/cinta-yang-tak-pernah-mati/</link>
		<comments>http://kaffah.wordpress.com/2006/07/27/cinta-yang-tak-pernah-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Jul 2006 01:12:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kaffah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://kaffah.wordpress.com/2006/07/27/cinta-yang-tak-pernah-mati/</guid>
		<description><![CDATA[sumber NN
Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama pun waktu yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan; &#8220;positif&#8221;.
Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kaffah.wordpress.com&blog=315400&post=5&subd=kaffah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><i>sumber NN</i></p>
<p>Apa yang paling dinanti seorang wanita yang baru saja menikah? Sudah pasti jawabannya adalah kehamilan. Seberapa jauh pun jalan yang harus ditempuh, seberat apa pun langkah yang mesti diayun, seberapa lama pun waktu yang kan dijalani, tak kenal menyerah demi mendapatkan satu kepastian dari seorang bidan; &#8220;positif&#8221;.</p>
<p>Meski berat, tak ada yang membuatnya mampu bertahan hidup kecuali benih dalam kandungannya. Menangis, tertawa, sedih dan bahagia tak berbeda baginya, karena ia lebih mementingkan apa yang dirasa si kecil di perutnya. Seringkali ia bertanya; menangiskah ia? Tertawakah ia? Sedih atau bahagiakah ia di dalam sana? Bahkan ketika waktunya tiba, tak ada yang mampu menandingi cinta yang pernah diberikannya, ketika mati pun<br />
akan dipertaruhkannya asalkan generasi penerusnya itu bisa terlahir ke dunia.<span id="more-5"></span></p>
<p>Rasa sakit pun sirna sekejap mendengar tangisan pertama si buah hati, tak peduli darah dan keringat yang terus bercucuran. Detik itu, sebuah episode cinta baru saja berputar.</p>
<p>Tak ada yang lebih membanggakan untuk diperbincangkan selain anak-anak. Tak satu pun tema yang paling menarik untuk didiskusikan bersama rekan sekerja, teman sejawat, kerabat maupun keluarga, kecuali anak-anak. Si kecil baru saja berucap &#8220;Ma&#8230;&#8221; segera ia mengangkat telepon untuk mengabarkan ke semua yang ada didaftar telepon.</p>
<p>Saat baru pertama berdiri, ia pun berteriak histeris, antara haru, bangga dan sedikit takut si kecil terjatuh dan luka. Hari pertama sekolah adalah saat pertama kali matanya menyaksikan langkah awal kesuksesannya. Meskipun disaat yang sama, pikirannya terus menerawang dan bibirnya tak lepas berdoa, berharap sang suami tak terhenti rezekinya. Agar langkah kaki kecil itu pun tak terhenti di tengah jalan.</p>
<p>&#8220;Demi anak&#8221;, &#8220;Untuk anak&#8221;, menjadi alasan yang utama ketika ia berada dipasar berbelanja keperluan si kecil. Saat ia berada di pesta seorang kerabat atau keluarga dan membungkus beberapa potong makanan dalam tissue. Ia selalu mengingat anaknya dalam setiap suapan nasinya,setiap gigitan kuenya, setiap kali hendak berbelanja baju untuknya.</p>
<p>Tak jarang, ia urung membeli baju untuknya dan berganti mengambil baju untuk anak. Padahal, baru kemarin sore ia membeli baju si kecil. Meski pun, terkadang ia harus berhutang. Lagi-lagi atas satu alasan demi anak.</p>
<p>Disaat pusing pikirannya mengatur keuangan yang serba terbatas, periksalah catatannya. Di kertas kecil itu tertulis: 1. Uang sekolah anak, 2. Beli susu anak, &#8230; nomor urut selanjutnya baru kebutuhan yang lain. Tapi jelas di situ, kebutuhan anak senantiasa menjadi prioritasnya. Bahkan, tak ada beras di rumah pun tak mengapa, asalkan susu si kecil tetap terbeli. Takkan dibiarkan si kecil menangis, apa pun akan dilakukan agar senyum dan tawa riangnya tetap terdengar.</p>
<p>Ia menjadi guru yang tak pernah digaji, menjadi pembantu yang tak pernah dibayar, menjadi pelayan yang sering terlupa dihargai, dan menjadi babby sitter yang paling setia. Sesekali ia menjelma menjadi puteri salju yang bernyanyi merdu menunggu suntingan sang pangeran.</p>
<p>Keesokannya ia rela menjadi kuda yang meringkik, berlari mengejar dan menghalau musuh agar tak mengganggu. Atau ketika ia dengan lihainya menjadi seekor kelinci yang melompat-lompat mengelilingi kebun, mencari wortel untuk makan sehari-hari. Hanya tawa dan jerit lucu yang ingin didengarnya dari kisah-kisah yang tak pernah luput didongengkannya.</p>
<p>Kantuk dan lelah tak lagi dihiraukan, walau harus menyamarkan suara menguapnya dengan auman harimau. Atau berpura-pura si nenek sihir terjatuh dan mati sekadar untuk bisa memejamkan mata barang sedetik. Namun, si kecil belum juga terpejam dan memintanya menceritakan dongeng ke sekian. Dalam kantuknya, ia terus pun mendongeng.</p>
<p>Tak ada yang dilakukannya di setiap pagi sebelum menyiapkan sarapan anak-anak yang akan berangkat ke kampus. Tak satu pun yang paling ditunggu kepulangannya selain suami dan anak-anak tercinta. Serta merta kalimat, &#8220;sudah makan belum?&#8221; tak lupa terlontar saat baru saja memasuki rumah. Tak peduli meski si kecil yang dulu kerap ia timang dalam dekapannya itu sudah menjadi orang dewasa yang bisa membeli makan siangnya sendiri di kampus.</p>
<p>Hari ketika si anak yang telah dewasa itu mampu mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, untuk menentukan jalan hidup bersama pasangannya, siapa yang paling menangis? Siapa yang lebih dulu menitikkan air mata? Lihatlah sudut matanya, telah menjadi samudera air mata dalam sekejap.</p>
<p>Langkah beratnya ikhlas mengantar buah hatinya ke kursi pelaminan. Ia menangis melihat anaknya tersenyum bahagia dibalut gaun pengantin. Di saat itu, ia pun sadar buah hati yang bertahun-tahun menjadi kubangan curahan cintanya itu tak lagi hanya miliknya. Ada satu hati lagi yang tertambat, yang dalam harapnya ia berlirih, &#8220;Masihkah kau anakku?&#8221;</p>
<p>Saat senja tiba. Ketika keriput di tangan dan wajah mulai berbicara tentang usianya. Ia pun sadar, bahwa sebentar lagi masanya kan berakhir. Hanya satu pinta yang sering terucap dari bibirnya, &#8220;bila ibu meninggal, ibu ingin anak-anak ibu yang memandikan. Ibu ingin dimandikan sambil dipangku kalian&#8221;. Tak hanya itu, imam shalat jenazah pun ia meminta dari salah satu anaknya. &#8220;Agar tak percuma ibu mendidik kalian menjadi anak<br />
yang shalih sejak kecil,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Duh ibu, semoga saya bias menjawab pintamu itu kelak. Bagaimana mungkin saya tak ingin memenuhi pinta itu? Sejak saya kecil ibu telah mengajarkan arti cinta sebenarnya. Ibu lah madrasah cinta saya, sekolah yang hanya punya satu mata pelajaran: cinta. Sekolah yang hanya punya satu guru: pecinta. Sekolah yang semua murid-muridnya diberi satu nama: yang dicinta.</p>
<p>Sekian.</p>
<p>&#8220;Ada dua cinta yang abadi : Cinta Tuhan kepada hamba-Nya dan  cinta ibu<br />
kepada anaknya&#8221;<br />
&#8220;i luv u .. mom&#8221;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kaffah.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kaffah.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kaffah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kaffah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kaffah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kaffah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kaffah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kaffah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kaffah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kaffah.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kaffah.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kaffah.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kaffah.wordpress.com&blog=315400&post=5&subd=kaffah&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaffah.wordpress.com/2006/07/27/cinta-yang-tak-pernah-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d235ca4f42be97502b45dc66382ae6e4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">kaaffah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>