Posted by: kaffah on: 6 Mei 2008
|
Written by junis |
|
Tuesday, 06 May 2008 |
|
Kondisi geopolitik yaitu memanasnya kawasan timur tengah serta “gonjang-ganjing” di Amerika Sekikat memberikan tekanan kenaikan harga minyak dunia. Resesi dunia yang dipicu oleh carut marutnya ekonomi Amerika Serikat sebagai akibat kasus SubPrime Mortgage, “memaksa dunia harus ikut merasakan resesi. Belum lagi masalah keterbatasan bahan pangan yang semakin langka dan juga krisis kepercayaan atas dominasi ekonomi barat.
Bagi ekonomi Indonesia yang masih memposisikan sektor pertambangan minyak dan gas bumi sebagai sektor yang cukup penting di dalam menopang perekonomian nasional, kenaikan harga minyak dunia mempunyai dua sisi dampak berbeda. Di satu sisi menguntungkan karena meningkatnya penerimaan dari minyak. Namun di sisi lain menimbulkan masalah karena meningkatnya subsidi bagi pemerintah dan meningkatnya biaya produksi bagi dunia usaha, karena bahan bakar minyak (BBM) untuk industri tidak lagi disubsidi pemerintah. Beberapa analis & ekonom telah menghitung berapa gap antara penerimaan dan pengeluaran tambahan akibat meningkatnya harga minyak mentah dunia. Hasil akhir dari perhitungan itu adalah mendudukan besar pengeluaran daripada penerimaan. |
Komentar