Posted by: kaffah on: 6 Oktober 2009
Shared via AddThis
Posted by: kaffah on: 26 Juni 2008
JAKARTA – Gosip kedekatan artis Zaskia Mecca dengan sutradara Hanung Bramantyo, belum mereda. Meski keduanya telah membantah, namun isu seputar hubungan istimewa di antara mereka kian santer saja. Terbukti dengan beredarnya, foto-foto Saskia dan Hanung di internet.
Ada tiga foto yang memperlihatkan kedekatan bintang Ayat-Ayat Cinta ini dengan sutradaranya. Pada foto pertama, Hanung dan Zaskia foto bersama seorang teman. Dalam foto itu Zaskia dan Hanung menggunakan baju warna coklat. Zaskia pun terlihat sedang memegang rokok.
Dalam foto kedua, Zaskia menggunakan baju warna ungu. Mereka terlihat sedang asyik berbicara. Sepertinya gambar ini diambil di sebuah lokasi syuting. Dalam foto ini pun, keduanya terlihat sangat dekat. Sama seperti gambar yang satu, Zaskia pun sedang memegang rokok.
Dalam salah satu foto, Zaskia dan Hanung tampak sedang duduk santai bersama Baim Wong.
Dari foto-foto itu, terlihat hubungan keduanya bukanlah kedekatan biasa. Padahal, dalam suatu wawancara, artis berjilbab itu pernah membantah memiliki hubungan khusus dengan sutradara muda yang tengah naik daun tersebut.
“Aku sama dia nggak pernah punya hubungan istimewa. Kita cuma rekan kerja aja,” kilah Zaskia di kantor MD Entertainment, di Tanah Abang, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
(fin)
Posted by: kaffah on: 26 Juni 2008
ini trailer film SANG MURABBI, perjalanan seorang anak manusia yang subhanallah …. nasihat2 dalam tulisan, buku, serta rekaman2 … memberikan nuansa lain .. disaat materialisme menjadi ukuran…
ustad Rahmat… ana rindu ..
Merendahlah,
engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina
(Ust. Rahmat Abdullah)
Posted by: kaffah on: 6 Mei 2008
|
Written by junis |
|
Tuesday, 06 May 2008 |
|
Kondisi geopolitik yaitu memanasnya kawasan timur tengah serta “gonjang-ganjing” di Amerika Sekikat memberikan tekanan kenaikan harga minyak dunia. Resesi dunia yang dipicu oleh carut marutnya ekonomi Amerika Serikat sebagai akibat kasus SubPrime Mortgage, “memaksa dunia harus ikut merasakan resesi. Belum lagi masalah keterbatasan bahan pangan yang semakin langka dan juga krisis kepercayaan atas dominasi ekonomi barat.
Bagi ekonomi Indonesia yang masih memposisikan sektor pertambangan minyak dan gas bumi sebagai sektor yang cukup penting di dalam menopang perekonomian nasional, kenaikan harga minyak dunia mempunyai dua sisi dampak berbeda. Di satu sisi menguntungkan karena meningkatnya penerimaan dari minyak. Namun di sisi lain menimbulkan masalah karena meningkatnya subsidi bagi pemerintah dan meningkatnya biaya produksi bagi dunia usaha, karena bahan bakar minyak (BBM) untuk industri tidak lagi disubsidi pemerintah. Beberapa analis & ekonom telah menghitung berapa gap antara penerimaan dan pengeluaran tambahan akibat meningkatnya harga minyak mentah dunia. Hasil akhir dari perhitungan itu adalah mendudukan besar pengeluaran daripada penerimaan. |
Posted by: kaffah on: 30 April 2008
Resume dari makalah Dari Negara Gagal Ke Republik Gagal (Robertus Robert)
Pengantar
Pada masa lalu, banyak peneliti, analis, dan ilmuwan belum pernah terpikir Negara akan mengalami kegagalan, dimana pada saat itu Negara didefinisikan sebagai entitas yang tetap dan solid. Wacana Negara Gagal menjadi booming, setelah Perdana Menteri Tony Blair (UK) mendirikan CRI (Country at Risk of Instability). CRI melihat adanya kemungkinan kegagalan sebuah Negara yang dilihat dari meningkatnya gejala-gejala seperti :
Akibat dari Negara gagal yaitu
Implikasi Negara gagal berpengaruh pada 2 hal yaitu
Ciri umum dan Sebab-sebab
Pendapat terkait Negara gagal banyak dipengaruhi oleh argumen humanitarian dan keamanan internasional. Adapun argumen serta pendapat para ahli terkait dengan konsepsi negara gagal terdiri dari :
Negara –negara yang lemah akan menghadirkan tantangan terhadap sistem pemerintahan global. Negara-negara gagal hanya akan menyediakan lahan pembiakan bagi kejahatan internasional, penampungan terorisme, dan mengancam pelaksanaan Millennium Development Goal, penyebaran HIV / AIDS, pengungsi serta pelarian kekayaan.
Lebih jauh lagi, Negara gagal juga ditentukan oleh bagaimana efektifitas dari 4 institusi inti Negara yaitu
Sedangkan menurut Miliken & Krause, ukuran dalam 12 indek diatas secara umum bersesuaian dengan 3 indikator yaitu keamanan, keterwakilan dan kesejahteraan.
Negara gagal lebih dipengaruhi karena negara tidak dapat mengakomodasi berbagai konflik kepentingan. Untuk itu, Martin Doornbos menganjurkan untuk menaruh perhatian pada keterkaitan dan ketidakcocokan antara negara dan masyarakat di negara-negara dimana konflik merebak. Argumen penting dari Doornbos adalah bahwa negara gagal tidak dengan serta merta berarti di dalam masyarakat dan teritori itu, tatanan absen sama sekali, dan negara sama sekali tidak berjalan (disfungsional).
Dalam kenyataannya seringkali ditemukan poros-poros beragam struktur pemerintahan lokal dan otoritas tradisional yang tidak bergantung secara ekslusif pada struktur negara. Jaringan-jaringan tersebut dapat menyediakan rujukan dan tatanan terhadap komunitas-komunitas dibawahnya. Akibatnya negara & masyarakat bergerak ke arah / trajectory yang berbeda dan berseberangan, yang pada akhirnya malah memperdalam kerenggangan antara unit-unit konstitutif negara itu sendiri, yang pada akhirnya menghantarkan negara tersebut ke dalam jurang keruntuhan.
Bias Imported Government
Morton melancarkan kritik bahwasanya secara historis negara gagal disebabkan oleh konsepsi yang dibangun oleh negara kuat terhadap negara lain. Konsepsi itu secara sengaja dibangun dengan tujuan untuk memperkuat hegemoninya terhadap negara-negara lemah. Morton, melacak ide negara gagal yaitu disampaikan pertama kali oleh perdana menteri Inggris pada jaman Lord Salisbury. Konsep tersebut disampaikan dalam pidato kontroversial yang dikenal dengan doktrin Salisbury.
Indikasi dari Morton diatas semakin terbukti, dimana ada bias orientalis dalam konsep negara gagal, yaitu ketika Francis Fukuyama membentuk suatu definisi tentang negara gagal secara serampangan. Indikator serampangan, tidak berdasarkan teoritis atau empiric dalam suatu kaidah pemahaman akademis melainkan berbasis pada kepentingan strategis semata, meliputi
Jadi indikasi morton tersebut diatas dan ditambah pendapat fukuyama melahirkan pendapat dari Christoper J. Coyne, yang intinya dibelakang konsepsi negara gagal bekerja sebuah mekanisme dan kepentingan serta intervensi negara-negara asing. Pandangan mengenai negara gagal hanya dianggap sebagai usaha untuk membangun suatu mekanisme stigma internasional yang memudahkan “imported government”.
Apakah Indonesia Mengarah ke Negara Gagal?
Jika yang digunakan untuk menentukan Negara Gagal adalah indikator Failed State Index serta mengabaikan pendapat Fukuyama, maka Indonesia tidak termasuk dalam golongan negara gagal. Indek memandang Indonesia secara positif karena faktor keberhasilan penyelesaian konflik Aceh secara damai dan keberhasilan pemilu langsung. Kesemua hal tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara stabil, jauh diatas negara-negar Afrika dan sejumlah negara di Timur Tengah dan Asia Selatan.
Analisa FSI menyimpulkan dari 12 indikator terdapat 3 indikator utama yang perlu diperhatikan, yaitu:
Dari hail keseluruhan analisis kuantitatif dari FSI didapat kesimpulan Indonesia berada ditengah-tengah antara 2 ekstrim terburuk dan terbaik.
Namun terdapat kritik atas analisis kuantitatif FSI,
Jadi, kondisi Indonesia saat tidak dapat dijelaskan secara institusional, kuantitatif dan fragmetaris. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kondisi dimana pembangunan & kemajuan institusional yang semakin pesat, namun tidak mampu mengurangi timbulnya rasa keterasingan, rasa tidak betah dan ketegangan yang ada.
Virtue dan Eksistensi Negara
Penulis menegaskan bahwa negara dalam bahasan ini berarti Negara sebagai suatu kerangka kehidupan bersama untuk mencapai tujuan-tujuan umm menyangkut keadilan dan kebaikan warganya. Sehingga keprihatinan terhadap negara gagal tidak semestinya didasarkan pada implikasi instrumentaslnya bagi keamanan internasional, melainkan bagi prospek martabat dan kemaslahatan manusia di dalamnya.
Bagaimana negara itu ada?, berikut beberapa pendapat tentang konsep negara
Negara ada jika ada keadilan, keadilan ada jika ada orang yang adil, maka negar yang stabil hanya mungkin apabila setiap komponen dalam stratifikasi (filsuf, tentara, rakyat jelata) berada dalam posisi.
Arstoteles menyampaikan konsep Zoon Politikon, yaitu manusia secara alamiah adalah makhluk politik. Manusia dilahirkan dengan mengemban tugas untuk merealisasikan tujuan-tujuan hidupnya di dalam polis/negara. Sehingga negara hanya mungkin ada jika ada partisipasi dan kesadaran dari warga untuk merealisasikan tujuan-tujuan bersama.
Machiavelli memberikan definisi bahwa negara yang kuat hanya mungkin di capai jika virtue tertanam secara mendasar di dalam diri setiap warga. Virtue inilah yang mendasari pengetahuan, ketrampilan dan kebijaksanaan setiap pemimpin serta warganya sekaligus.
Virtue didefinisikan sebagai
Virtue pada dasarnya bukanlah sesuatu yang abstrak tetapi sesuatu yang bersifat potensial dan hanya tampil di dalam praktek. Virtue muncul dalam keputusan dan tindakan yang diukur dengan sejauhmana implikasi dari tindakan itu mengarah kepada kepentingan bersama dan common good. Contoh dari virtue adalah sebagai berikut:
Pendasaran negara yang lebih bersifat instrumental dikemukakan oleh Hobbes, dimana Hobbes memandang negara sebagai fungis Koersi. Maksudnya adalah negara ada sebagai hasil dari kesadaran untuk mengatasi konflik dan kekerasans yang mendasar dan bersifat alamiah dalam setiap orang. Dari pendekatan ini muncul perlunya hukum untuk mengatur tatanan dalam masyarakat.
Kesimpulan dari pendapat para ahli diatas adalah negara mungkin apabila ia berdiri sebagai suatu republik yang sehat, dan tumbuh diatas dasar pemahaman antropologis bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk merealisasikan tujuan-tujuan bersama di dalam politik.
Dalam prakteknya, Indonesia sebagai sebuah republik yang telah mengalami beberapa pemilu demokratis, perbaikan ekonomi dengan pendekatan baru terus diupayakan namun keretakan dalam kehidupan bersama terus menganga. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa bukan karena institusi, resep pembangunan dan programnya yang bermasalah, tetapi lebih karena merosotnya virtue.
Penutup
Indonesia jelas tidak dapat disebut sebagai negara gagal, jika melihat indikator-indikator yang ada. Namun dalam kenyataannya terdapat beberapa kejadian seperti meningkatnya kasus bunuh diri, kekerasan dalm rumah tangga, kebencian & kekerasan etnis, diskriminasi, organisasi kekerasan yang dipelihara. Kenyataan tersebut tidak menyebabkan negara gagal sekaligus, melainkan akan menyebabkan negara menghadapi bahaya dimasa depan.
Posted by: kaffah on: 4 April 2008
Posted by: kaffah on: 18 Maret 2008
Posted by: kaffah on: 18 Maret 2008
|
Written by junis |
|
Tuesday, 04 March 2008 |
|
Otonomi Daerah & Persatuan Bangsa Pemateri: Prof. Dr. Eko Prasojo (Dosen FISIP UI) Pendahuluan Bangsa Indonesia saat ini sedang mengalami permasalahan yang komplek dan mendasar dalam kontek kenegaraan. Permasalahan bangsa ini dapat dilihat dari 3 sudut pandang, yaitu: a. Political Corruption Partai politik di Indonesia sebagian besar tidak mempunyai merit system, yang ditandai dengan adanya ideologi serta sistem kaderisasi yang jelas. Dengan tidak adanya ideologi dan sistem kaderisasi menyebabkan fungsi partai politik tidak dapat berjalan dengan sempurna. Dan ditambah lagi aturan yang ada saat ini menyebabkan kemungkinan parpol bertumbuh seperti cendawan dimusim hujan. Saat ini aturannya hanya ET (Electoral Threshold) yang ternyata tidak berjalan secara efektif. Buruknya kinerja parpol dewasa ini, yang diindikasi buruknya kinerja anggota dewan, memaksa kita untuk memikirkan suatu mekanisme yang mampu membatasi jumlah parpol secara alami dan meningkatkan keseriusan individu-individu penggerak parpol dalam aktivitasnya. Aturan yang sedang dikaji adalah Parliamentary Threshold, yaitu parpol yang tidak dapat memperoleh minimal sejumlah kursi diparlemen maka kursi parpol tersebut akan hangus. b. Yudicial Corruption Permasalahan kedua bangsa ini adalah korupsi di lembaga peradilan. Yudicial system di Indonesia saat ini terlalu banyak celah yang bisa dimainkan, sehingga yudicial system sebagai benteng terakhir dari suatu sistem berbangsa tidak dapat berfungsi maksimal. Dampaknya adalah ketidakpercayaan rakyat kepada hukum, yang akhirnya kemandulan hukum terjadi. c. Bureaucrats Corruption Birokrat adalah satu komponen sistem bangsa yang mempunyai kerusakan. Birokrasi di Indonesia mengaku bertipe desentralisasi tapi dalam kenyataannya sentralisasi terpusat, dimana perbandingan belanja pusat dan daerah +/- 60:40. Dalam perjalanannya, sistem pemerintahan sentralisasi jaman orba mampu melakukan pembangunan dengan bantuan, pinjaman ataupun investasi asing. Karena kebocoran bantuan / pinjaman tersebut, menyebabkan pembangunan Indonesia lebih mahal dan tidak efisien. Dampaknya adalah hasil pembangunan tidak seperti yang diharapkan, rakyat masih tetap dalam kemiskinan. Setelah reformasi bergulir, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit, terkait dengan tuntutan dari daerah, yang harus disikapi dengan bijak. Tuntutan-tuntutan tersebut akhirnya disikapi dengan mengeluarkan kebijakan Otonomi Daerah, yang tertuang dalam Undang-Undang.
|
Posted by: kaffah on: 18 Maret 2008
Ini adalah posting pertama menggunakan word 2007
Posted by: kaffah on: 26 Desember 2006
Mabuk Statistik Web
Statistik lebih sering digunakan sebagai alat bantu, mirip seperti orang mabuk menggunakan lampu jalanan untuk bersandar agar ia tak jatuh terkapar. Padahal fungsi statistik yang sesungguhnya adalah untuk memberikan pencerahan. Seperti kata Mark Twain: “People commonly use statistics like a drunk use a lamp post — for support rather than illuminations”. Nah, sayangnya, sejauh yang saya perhatikan, banyak pemilik situs web yang membaca statistik ala orang mabuk seperti disindir penulis novel top Petualangan Huckleberry Finn dan Petualangan Tom Tawyer itu.
Coba perhatikan laporan statistik di banyak situs web. Angka-angka seperti inilah yang ditampilkan atau dibicarakan: berapa jumlah pengunjungnya, seberapa sering kunjungannya, berapa banyak halaman web yang dibaca (impression), dan sejenisnya.
Kita sering lupa, bahwa statistik web dipasang, dibaca dan dianalisa untuk memahami perilaku pengunjung alias user alias manusia. Manusia? Ya. Sekali lagi: manusia. Oleh karena itu, ketika membaca statistik web, usahakan menganalisa statistik kunjungan manusia, bukan kunjungan mesin. Bagi yang kurang familiar mengenai hal ini, saya beri pengantar singkat.
Sesungguhnya, yang berkunjung ke situs kita ada dua jenis. Yakni.
Ada beberapa jenis robot yang dikenal saat ini. Antara lain:
Nah, sebelum jauh-jauh membaca jumlah pengunjung, impresi dan sejenisnya, pastikan dulu yang dianalisa adalah kunjungan manusia. Bagaimana caranya? Banyak. Namun cara yang paling tepat, menurut John Marshall, CEO ClickTracks, adalah buang angka yang berkunjung ke situs kita kurang dari 10 detik. Ini untuk mengeliminasi Bots jahat yang biasanya memang berkunjung dalam tempo sesingkat itu.
Metode itu memang ada kelemahannya. Bagaimana pun juga akan ada pengunjung manusia ke situs kita yang dalam tempo 10 detik memutuskan keluar karena tak ada satu pun yang menarik perhatian dia untuk berlama-lama di sana. Namun, dengan menfokuskan diri pada kunjungan di atas 10 detik, itu berarti kita menganalisa pengunjung berkualitas.
…..Masih bersambung….
http://www.virtual.co.id/blog/index.php?p=129
Komentar